ngandap asem

Tuesday, March 15, 2005

Jadi ibu bekerja atau ibu di rumah atau ibu bekerja di rumah ? sama saja.

Tergelitik juga membaca artikel yang dimuat di Suara Pembaruan, judule "Perempuan, apa yang kau cari ?" penulisnya seorang ibu rumah tangga yang mengaku sangat berminat pada anak, perempuan, dan keluarga.

Well, saya merasa sebagai ibu rumah tangga, atau stay at home mom, atau working at home mom, tapi tetap saja merasa artikel ini ‘agak’ sepihak.

Moms should stay at home ? tergantung. Kalau dia bahagia, why not. Tapi kalau tidak bahagia, kenapa musti memaksakan diri hanya melakukan pekerjaan domestik di rumah.

Saya pernah ragu dengan pilihan hidup saya. Sementara teman-teman wanita saya dapat digolongkan orang-orang yang sukses dengan pekerjaannya. Mungkin perasaan saya saat itu hanya rasa iri saja ? mungkin saja.

Pada akhirnya saya pasrahkan diri saya. Saya tahu manusia selalu dalam keadaan labil, dapat saja suatu saat saya kembali mempertanyakan diri saya. Tapi yang saya yakini, itu sebagian dari rasa iri saja. Karena saya tahu apa yang saya inginkan di lubuk hati yang paling dalam.

Sejak dulu, sudah tertanam dari diri saya bahwa saya akan stay at home, mempunyai pekerjaan di rumah. Kenapa ? karena saya senang di rumah. Not only for my children, but also for myself.

Sedihnya selalu posisi ibu rumah tangga jadi tekanan. Ibu bekerja yang tidak setuju dengan artikel semacam itu, seringkali menyatakan ibu rumah tangga seringkali melakukan pembenaran-pembenaran. Benarkah ? atau dia memang benar-benar happy ? atau sebenarnya dia happy tapi tekanan-tekanan dari sekelilingnya membuat dia kembali mempertanyakan posisinya. Apakah Indonesia terlalu usil ?

Saya tahu seseorang yang berdedikasi menjadi ibu rumah tangga. Dia sangat menikmati, apalagi dia memiliki bisnis di rumah yang berhasil. Tapi, sepertinya dengan tekanan dari sekelilingnya membuat dia terkesan melakukan pembenaran. Padahal, be proud with it girl ! you know you like it .. you good at it.

Ada yang pernah membuat survey, female radio kalau saya tidak salah. Menanyakan anak-anak SMA apa dia lebih suka ibunya bekerja atau tidak bekerja ? jawabannya sebagian besar lebih menyukai ibunya tidak bekerja. Bagi ibu rumah tangga, mereka merasa diatas angin, buat working moms, sebagian melakukan defence, sebagian cuek terutama yang yakin dengan pilihannya. Saya memposisikan diri saya jika saya yang ditanya, mungkin saya cuma bengong, kenapa musti nanya mbak ? saya gak peduli kok, mau ibu saya di rumah atau beliau bekerja. Memang ibu saya di rumah, tapi kalaupun dia bekerja dan masih memperhatikan saya dengan baik rasanya gak jadi masalah.

Buatku; khususnya untuk yang bisa memilih; semua adalah pilihan. Entah dia memutuskan menjadi working moms atau stay at home moms, atau working at home moms, itu adalah pilihannya. Dengan resikonya masing-masing. Semuanya memiliki tanggung jawab baik untuk keluarga, pekerjaannya, dan Tuhan.

Buat yang tidak bisa memilih. Biarkan Tuhan yang menilai, jangan terpengaruh.

Rasanya ingin mengatakan stay at home moms bukanlah pekerjaan yang sempurna. So buat working moms jangan merasa terancam, defence dengan segala artikel atau buku tentang sempurnanya profesi ibu rumah tangga. Dengan tinggal di rumah bukan berarti anak akan tumbuh dengan sempurna.

Dan untuk stay at home moms. Read, learn, study, mingle, do something for yourself, do something you like. Dengan begitu tidak akan ada pembenaran-pembenaran yang harus dikatakan. Be proud of yourself.

Thursday, March 10, 2005

Tirai

(iseng banget gak sih saya bikin tulisan dengan judul seperti itu)

Ini memang masih ada hubungannya dengan kepindahan kami. Sejak semua urusan rumah saya serahkan sama “bapak rumah tangga” maka urusan yang lain, yang ecek-ecek, diserahkan sama saya. Seperti merencanakan me’renovasi’ sofa mamah yang tak terpakai untuk saya gunakan di Jakarta; dan men’desain’ tirai.
Ternyata urusan tirai pun tak gampang, pertama tentu saja berhubungan dengan masalah bujet yang tidak banyak. Kedua penyesuaian dengan interior ‘studio’ (begitu saya menyebutnya) kami di Jakarta. Omong-omong tentang julukan studio ini saya merasa pantas menyebutnya seperti itu karena nantinya kami akan tinggal di lantai 2 dimana dapur, ruang makan, dan ruang keluarga akan berada dalam satu ruangan.
Kembali masalah tirai, awalnya saya sudah sangat jatuh cinta dengan krei kayu atau wooden blind. Sempat telepon sana sini, bahkan interlokal untuk mengetahui berapa kira-kira bujet yang diperlukan. Cukup mahal, tapi melihat bentuk dan perawatannya rasanya akan memuaskan kami.
Setelah tanya sana sini ternyata hasil survey yang kami lakukan tidak terlalu memuaskan. Krei ini mungkin tidak terlalu awet untuk digunakan, terutama jika ada anak kecil. Desainnya cukup ringkih, dan jika suatu saat harus diganti relnya, biaya akan jadi lebih mahal dibanding mencuci tirai kain. Hehe, aku lihat ale juga suka memainkan tirai, mungkin jika menggunakan krei kayu saya akan jadi lebih galak.
Akhirnya diputuskan untuk memakai tirai biasa. Agak sedih juga mengingat saya sudah jatuh hati dengan krei ini, yaahh, mungkin nanti untuk kantor saya, jika tabungan sudah terkumpul lagi tentunya.
Setelah survey tirai kain pun, kami tidak dapat langsung memesan, karena ternyata dengan bahan yang biasa-biasa saja pun bujet yang harus disediakan pun sudah cukup besar. Akhirnya, back to nature, hehe, maksudnya tirai tenun, bahannya cukup oke, agak etnik, dan yang paling penting, harganya pun murah. Tadinya saya tidak terlalu tertarik karena dulu kamar saya sudah menggunakannya, tapi mengingat perbedaan harga yang cukup signifikan, tenun pun jadi pilihan yang tidak buruk. Untuk pendekatan pribadi (hehe) akhirnya didesain dengan sedikit aplikasi batik. Cukup cantik.

Intinya, merencanakan rumah tinggal memang amat sangat menyenangkan teman-teman. Mungkin karena dari kecil cita-cita saya jadi desainer interior. Entah karena hobi atau memang punya bakat, saya juga tidak tahu. Hanya saja, cita-cita ini ‘belum’ tercapai. Cukup menyesal juga melihat betapa menyenangkannya ini, sehingga terpikirkan alangkah menyenangkannya jika memiliki profesi yang sama.

Tuesday, March 08, 2005

Layar Tancep

tiga film terakhir yang ditonton

cold mountain
bagus .. bagus banget
bikin penasaran ama jude law
(konon jadi kandidat james bond, bener gak ?)

closer
nonton ini gara-gara penasaran ama jude law di cold mountain (hehe)
walau masuk nominasi golden globe, teteub aja gue kurang suka ama film2 kayak begini
gak ngerti hehe

bridget jones : the edge of reason
biar dicela-cela gue teteub suka ama romantic comedy kayak gini
membuat gue lebih bahagia habis nontonnya hehe
dan bikin gue ngakak
dan colin firth-nya yummyyyy hehe ..

malem ini nonton apa yah ?

Name :
Web URL :
Message :