Tirai
(iseng banget gak sih saya bikin tulisan dengan judul seperti itu)
Ini memang masih ada hubungannya dengan kepindahan kami. Sejak semua urusan rumah saya serahkan sama “bapak rumah tangga” maka urusan yang lain, yang ecek-ecek, diserahkan sama saya. Seperti merencanakan me’renovasi’ sofa mamah yang tak terpakai untuk saya gunakan di Jakarta; dan men’desain’ tirai.
Ternyata urusan tirai pun tak gampang, pertama tentu saja berhubungan dengan masalah bujet yang tidak banyak. Kedua penyesuaian dengan interior ‘studio’ (begitu saya menyebutnya) kami di Jakarta. Omong-omong tentang julukan studio ini saya merasa pantas menyebutnya seperti itu karena nantinya kami akan tinggal di lantai 2 dimana dapur, ruang makan, dan ruang keluarga akan berada dalam satu ruangan.
Kembali masalah tirai, awalnya saya sudah sangat jatuh cinta dengan krei kayu atau wooden blind. Sempat telepon sana sini, bahkan interlokal untuk mengetahui berapa kira-kira bujet yang diperlukan. Cukup mahal, tapi melihat bentuk dan perawatannya rasanya akan memuaskan kami.
Setelah tanya sana sini ternyata hasil survey yang kami lakukan tidak terlalu memuaskan. Krei ini mungkin tidak terlalu awet untuk digunakan, terutama jika ada anak kecil. Desainnya cukup ringkih, dan jika suatu saat harus diganti relnya, biaya akan jadi lebih mahal dibanding mencuci tirai kain. Hehe, aku lihat ale juga suka memainkan tirai, mungkin jika menggunakan krei kayu saya akan jadi lebih galak.
Akhirnya diputuskan untuk memakai tirai biasa. Agak sedih juga mengingat saya sudah jatuh hati dengan krei ini, yaahh, mungkin nanti untuk kantor saya, jika tabungan sudah terkumpul lagi tentunya.
Setelah survey tirai kain pun, kami tidak dapat langsung memesan, karena ternyata dengan bahan yang biasa-biasa saja pun bujet yang harus disediakan pun sudah cukup besar. Akhirnya, back to nature, hehe, maksudnya tirai tenun, bahannya cukup oke, agak etnik, dan yang paling penting, harganya pun murah. Tadinya saya tidak terlalu tertarik karena dulu kamar saya sudah menggunakannya, tapi mengingat perbedaan harga yang cukup signifikan, tenun pun jadi pilihan yang tidak buruk. Untuk pendekatan pribadi (hehe) akhirnya didesain dengan sedikit aplikasi batik. Cukup cantik.
Intinya, merencanakan rumah tinggal memang amat sangat menyenangkan teman-teman. Mungkin karena dari kecil cita-cita saya jadi desainer interior. Entah karena hobi atau memang punya bakat, saya juga tidak tahu. Hanya saja, cita-cita ini ‘belum’ tercapai. Cukup menyesal juga melihat betapa menyenangkannya ini, sehingga terpikirkan alangkah menyenangkannya jika memiliki profesi yang sama.

2 Comments:
waaa emang bener, merencanakan rumah tinggal itu menyenangkan!!!!
Gue sih baru sebatas ngumpulin desain rumah sampei interiornya... :P
it's fun na. tapi kalau terbentur bujet sedih juga. tapi menyesuaikan desain yang kita pingin dengan bujet yang ada ternyata juga menyenangkan hehe.pokonya kalau lagi merencanakan rumah tinggal harus bener-bener dinikmati deh.
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home