ngandap asem

Monday, January 24, 2005

Be a better person

Kemarin mungkin hari terakhir saya mengajar di sana. Setelah melakukan perpisahan yang kikuk dengan mahasiswa akhirnya saya merasa lega. Kenapa lega ? karena saya merasa mengakhiri ke-tidak profesional-an saya selama 1 semester ini.
Mungkin saya memang tidak ‘cocok’ di kampus ? buat sebagian orang mungkin saya ini aneh. Tidak jelas apa yang diinginkan. Tapi saya memang seperti itu, mengalir sejalan dengan apa yang saya inginkan saat itu. Tak jelas memang. Tapi toh saya menikmatinya, dan apabila saya ternyata memang melakukan kesalahan, saya beryukur dapat menerima kesalahan itu dan membuatnya menjadi pelajaran berharga dalam hidup.

Sepertinya ada beberapa hal yang saya pelajari setahun terakhir ini, banyak hal. Salah satunya adalah untuk menikmati hidup yang hanya sekali ini. Well entahlah kalau Tuhan nanti menciptakan dunia baru setelah kiamat, dan ruh saya diberi kesempatan untuk sekali lagi menikmati hidup (tapi sepertinya tidak, yang saya tahu setelah dunia ya langsung akhirat, mungkin saya harus tanya ustadz). Anyway, saya merasa baru bisa merasa inilah hidup!setelah menikmati 'my little family' (mungkin hubungannya dengan ketenangan hidup) dan bisnis! Believe it or not, saya merasa akhirnya menemukan dunia saya .. bukan menjadi dosen (entah jika saya menjadi dosen di Jakarta apakah saya bisa menikmatinya/tidak), bukan menjadi pegawai (yang ini rasanya sulit saya jalani lagi, kecuali terpaksa alias tuntutan perut), tetapi menjadi .. what ? business woman? Entah saya juga tidak tahu harus menyebut apa pada profesi saya ini, mungkin pedagang, walau tidak melulu berdagang tapi juga melakukan inovasi-inovasi kecil untuk menghasilkan sesuatu yang tidak lazim. Kecil memang, tapi kalau ditanyakan kepuasannya mungkin jadi besar. Alhamdulillah.

Hal lainnya yang saya pelajari setahun ini juga sangat berhubungan dengan kenikmatan dalam menjalani hidup. Saya belajar untuk tidak takabur. Saya sangat bersyukur diberikan ‘kemampuan’ untuk introspeksi. Ini mungkin lucu, tapi saya belajar untuk tidak terlalu larut dalam kebahagiaan. Tuhan bisa mengambilnya sewaktu-waktu. Ini benar-benar terjadi dalam hidup saya, setelah kebahagiaan yang begitu besar saya rasakan, tiba-tiba, ada sesuatu yang membuatnya terenggut. Membuat saya, saat itu, tidak lagi bisa menikmati setiap hal yang membuat saya bahagia.
Ada jeleknya memang, saya jadi sedikit takut untuk menikmati kebahagiaan. Saya menjadi seseorang yang berhati-hati. Tidak terlalu memang, tapi cukup mengganggu.

Saya kembali diingatkan pada hal itu dengan tsunami yang menimpa Aceh. Dari semua berita banjir, longsor, gempa, hanya bencana ini yang mampu membuat saya menangis di depan tv. Hanya bencana ini yang bisa membuat saya merogoh kocek tanpa berpikir. Ini sebenarnya sungguh memalukan. Hanya bencana ini yang membuat saya sadar bahwa masalah saya “sangat” bukan apa-apanya. Haruskah dengan bencana sebesar ini yang membuat manusia berpikir ? saya seharusnya malu karena saya salah satunya.

Setahun terakhir ini memang luar biasa. Tapi apapun itu, saya percaya Tuhan memberikannya untuk membuat saya belajar, mungkin untuk merubah saya menjadi orang yang lebih dewasa. Sudah saatnya mungkin untuk hijrah, be a better person.

1 Comments:

At 2:12 AM , Blogger Reti said...

Go on, Vera! :) Gue link yaa... boleh nggak...?

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

Name :
Web URL :
Message :