ngandap asem

Monday, November 29, 2004

Qanaah

Manusia dianugerahi Tuhan rasa iri bahkan dengki.

“ya Alloh semoga aku selalu dijauhkan dari rasa itu”

Tapi terkadang kita tidak dapat menghindar darinya. Saat hati kita sedang kosong, saat kita sedang merasa sendiri, atau saat kita sedang merasa tidak puas dengan hidup kita, rasa iri itu kadang menyusup, menembus relung hati, menimbulkan gejolak yang tidak enak, hingga meracuni hati kita.

Maka, bersyukurlah dengan hidup kita.
Qanaah, itu kata dr Rahman Maas yang nasihatnya saya dengarkan kemarin pada saat silaturahmi di Gegerkalong. Bersyukur dengan hidup kita, apa adanya. Rasa iri hanya menimbulkan depresi, begitu katanya.
Ada tiga tingkatan gejala depresi
satu, stress kecil, atau beliau mengatakannya hatinya “dekok” mungkin hanya mengakibatkan orang yang menderitanya marah-marah (kupikir, sering sekali aku stress, mungkin awalnya karena rasa iri tadi)
dua, stress sedang, atau hatinya “gerowong” (entah benar entah tidak, karena ini bahasa sunda) yang menderitanya bisa memukul apa saja, atau melempar apa saja (apakah membanting pintu salah satunya ya?)
tiga, stress berat, atau hatinya sudah “gepeng” sudah sedemikian parah hingga orang yang menderitanya melakukan bunuh diri (semoga kita semua dijauhkan daripadanya)

Karena itu jauhkanlah rasa iri itu. Qanaah .. qanaah .. qanaah .. mungkin itu yang harus dibisikkan dalam ucapan, dan diresapi dalam hati setiap kali rasa iri itu timbul.

Indahnya jika qanaah di hati tiap manusia.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

Name :
Web URL :
Message :